Langsung ke konten utama

PERTAJAM RASA DALAM MEMILAH DAN MEMILIH KATA




Oleh: Toto Mulyoto

Resume ke-18

Gelombang: 28

Tanggal: 17 Februari 2023

Tema: Diksi dan Seni Bahasa

Narasumber: Maydearly 

Moderator: Widya Arema


Narasumber Hebat

Sumber: https://maydearly.blogspot.com/2021/07/biodata.html 

Nama penanya Maydearly, beliau ingin nama ini yang dikenalkan dalam KBMN. Guru di SMPN 1 Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten ini dilahirkan di Lebak pada tanggal 26 November 1989.  

Pendidikan  

  • MI Al-Hidayah Cinyiru pada tahun 1996
  • SMP Negeri 1 Cipanas
  • SMA Negeri 1 Cipanas lulus pada tahun 2008
  • S-1 di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, lulus pada tahun 2013.
  • Pendidikan Magister di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Study Pendidikan Bahasa Inggris selesai pada tahun 2020.

Buku-buku karya Penulis:

  1. 10 Buku Antologi 
  2. 2 Buku Kurator Jejak Pena Pengembara Aksara, dan Kisah Para Pendaki Mimpi
  3. Buku Duo Litersi Digital untuk Abad 21 bersama Prof. Eko Indrajit
  4. Buku Solo Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial
  5. Buku Solo Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan
  6. Buku Solo Catatan Inspiratif

Pengalaman Mengajar :

  1. Guru di SD Kristen Mardi Utomo (2009-2010)
  2. Guru di SMPN 2 Lebakgedong (2009 - 2014)
  3. Guru di SDN 2 Ciladaeun (2010 - 2012)
  4. Guru di SMKN 1 Lebakgedong (2015 - 2017)
  5. Guru di SMPN 1 Lebakgedong (2011 - Sekarang)
  6. Asisten Dosen di Kampus STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)

Pengalaman Narasumber :

  • Narasumber Webinar Assesment of Product and Project for US di MGMP Wilbi 3 Kab. Lebak
  • Teacher Training and Consultancy di ProNative (Maret 2021)
  • Narasumber Kelas Menulis PGRI 
  • Narasumber Kelas Menulis WIMP MPA
  • Narasumber Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Pengalaman Organisasi :

  • Ketua ELOS di STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)
  • Pengurus MGMP Bahasa Inggris WILBI 3 di Bidang Pengembangan dan Inovasi (2017- Sekarang)
  • Pembina OSIS SMPN 1 Lebakgedong (2017-2021)
  • Kepala Pustakawan SMPN 1 Lebakgedong (2021)
  • Pembina LKIR SMPN 1 Lebakgedong (2021)
  • Ketua Pelatihan Menulis PGRI Gelombang 18 (2021)
  • Admin Grup Pelatihan Menulis Gel. 18,19,20,21,22.
  • Admin Grup Pelatihan Menulis WIMP MPA Angkatan 1
  • Admin Tim Solid Omjay Pelatihan Menulis
  • Founder Kelas Menulis Remaja Berkarya (Gelar Tikar/Tinta Karya) 
  • Founder Kelas Menulis Pucuk Diksi

Motto 

"Menulislah untuk hidup seribu tahun"

Medsos

  • Personal Branding : Sang Blogger Milenial
  • Instagram : Maydearly89
  • Facebook : Mamah Agam
  • Email : maydearly@gmail.com.
  • Situs blog : maydearly.blogspot.com


DIKSI DAN SENI BAHASA

Diksi – menurut narasumber - akar katanya dari bahasa Latin: dictionem, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction Kata kerja ini berarti: pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif, sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.

Selanjutnya narasumber menyampaikan bahwa orang yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot dalam sejarah bahasa, adalah Aristoteles – seornag filsuf dan ilmuwan Yunani. Gagasan itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam Poetics– salah satu karyanya. Seseorang yang akan menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. 

Disampaikan pula oleh narasumber bahwa gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, sehingga diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.

William Shakespeare menurut narasumber dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.

Selanjutnya narasumber menyampaikan materi dengan model tanya - jawab

Mengapa diksi begitu penting dalam kajian sebuah bahasa? Sebab banyak keindahan  atas sebuah kata yang tak tereja oleh bibir. Diksi bak pijar bintang di angkasa yang menunjukan dirinya dengan kilauan, mempesona dan tak membosankan.

Apakah begitu sulit kita dalam berdiksi? Terkadang banyak penulis yang merasa takut dalam memulai sebuah tulisan, terkadang lidah kita merasa kelu untuk menulis sesuatu yang menakjubkan. Ada keraguan yang dibungkam sebelum diterjemahkan dalam bahasa.

Apakah mungkin saya bisa menulis sebuah bahasa yang indah? Menulis itu sederhana, sesederhana mengadukan gula dalam gelas kopi. Menulis dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita dengarkan

Jurus apa yang harus kita pakai agar kita mampu menulis dengan segala keindahan? Libatkan 5 macam panca indera kita. Penting untuk menjadi peka dan baper 

1. Sense of Touch adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya.

Contoh: Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi

2. Sense of Smell adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.

Contoh: Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan dilangit harapan

3. Sense of Taste adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.

Contoh: Ku kecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari ku genggam Hp tangan  kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.

4. Sense of Sight adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya.  Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.

Contoh: Derit daun pintu mencekik udara ditengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu hanya sebagai lamunan

5. Sense of hearing adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar. 

Contoh: Derum kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening, tetapi terasa berat oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan yang menghakimiku untuk tak lagi merinduimu


Acap kali dalam menulis kita hanya melibatkan otak kita sebagai muara untuk berpikir tanpa kita dengar, tanpa kita rasa, tanpa kita raba, jika terkadang sesuatu di pelupuk mata bisa menjadi rongga untuk mencumbu tulisan kita.

Mengapa kita selalu melihat kursi yang kita duduki dengan pandangan yang begitu sederhana? Sesekali buatlah ia mempesona dan anggun.

Di atas kursi ini, aku pernah memeluk ratapan bagaimana menungguimu dengan sebuah doa takdim.

Setiap apapun yang kita lihat, sesekali kita rasakan, kita raba, bahkan kita ampu kan sebagai sebuah senyawa yang mampu bersuara.

Yakin, masih terasa sulit menulis diksi?

Narasumber pun menutup pertemuan dengan beberapa quote untuk memotivasi

Setelah mencoba, kita akan yakin, setelah yakin Pasti Bisa

...a true writer is someone that never feeling down. 

Betapa pun sulitnya keadaan yang kita hadapi, jangan sekali-sekali putus asa. Selalu berusaha, mencoba dan terus mencoba. 

Seberapa sulit pun seorang penulis menata perasaannya, ia selalu mampu menumbuhkan ide-ide baru


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"MAN OF ACTION" IN ACTION!

  Oleh: Toto Mulyoto Resume ke-6 Gelombang: 28 Tanggal: 20 Januari 2023 Tema: Menulis Buku Mayor Dalam Dua Minggu Narasumber: Prof. Richardus Eko Indrajit Moderator: Aam Nurhasanah, S.Pd. "Man of Action" menurut kamus Oxford adalah " someone who prefers to do things rather than think about and discuss them ". Tema KBMN malam ini, Menulis Buku Mayor Dalam Dua Minggu, disampaikan oleh orang yang termasuk kategori "Man of Action". Narasumber ini lebih suka menerjunkan para peserta pelatihan langsung ke dunia kepenulisan tanpa banyak basa-basi. Targetnya jelas: membuat buku yang akan tembus ke penerbit dalam waktu singkat.  Inilah sepak terjang narasumber hebat malam ini, Prof. Eko Indrajit. Prof. Richardus Eko Indrajit (sumber wikipedia) Narasumber Hebat Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A. (lahir 24 Januari 1969) adalah seorang tokoh pendidikan dan pakar teknologi informatika. Beliau banyak menulis buku serta jurnal yang telah d...

OM JAY DALAM PERSPEKTIF DUA "SI"

Om Jay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.) Pertama kali mengetahui adanya hamba Allah dengan panggilan "Om Jay" adalah dari guru sekaligus sahabat saya Deni Darmawan, seorang dosen yang berkiprah di Universitas Pamulang (UnPam) Banten. Ustadz Deni, demikian saya biasa memanggil beliau, nampaknya sangat terkesan dengan "kehebatan" Om Jay. Pada saat itu, saya belum tahu apa-apa tentang Om Jay, jadi saya merasa biasa saja dengan kesan-kesan Ustadz Deni. Sampai akhirnya saya bisa "menyaksikan" langsung "kehebatan" Om Jay yang sangat berkesan bagi Ustadz Deni. Itu terjadi ketika saya mengikuti Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) angkatan 28 yang diadakan oleh PB PGRI. Ternyata, oh, ternyata: Om Jay adalah founding father  dari kegiatan tersebut! Akhirnya saya bisa merasakan salah satu kehebatan Om Jay: kobaran semangat Om Jay dalam menularkan kegemaran menulis (dan membaca) kepada para peserta. Upaya beliau membakar semangat menulis para peserta ternyata t...

GAK KECEWA SAMA LAYANAN JNE???

Dulu, sekitar tahun 80an - 90an aku hanya mengenal TiKi (Titipan Kilat). Sering kulihat iklannya di majalah atau koran yang kubaca. Iklan TiKi yang kubaca di sebuah majalah bulanan (Juli 1984) Tak dinyana di tahun 2020an, terutama semenjak pandemi, aku berkenalan dengan JNE yang ternyata masih memiliki akar yang sama dengan TiKi.   Sekarang ini nampaknya memang bukan zamannya lagi beriklan di media cetak. JNE sudah punya akun-akun medsos yang bisa jadi media iklan. Ada IG, ada Tiktok, Ada Twitter, eh, udah jadi "X",,, Tangkapan layar IG JNE...follower hampir 2 juta! Mantaps! Partner Dalam Pengiriman Barang Interaksiku yang langsung, ternyata oh ternyata, adalah dengan JNE, bukan dengan TiKi. Aku menggunakan jasanya bukan hanya untuk mengirim barang-barang. Tetapi kami sekeluarga juga menerima kiriman barang via JNE. Soal mengirim barang itu ceritanya begini: Di masa pandemi istriku mencari tambahan penghasilan dengan menjadi penyalur buku dan ramuan herbal. Pembelinya keb...